Laporan industri otomotif-sport utility vehicle Feb 2016

Hingga Februari 2016, pemain industri otomotif nasional belum memperlihatkan hasil yang signifikan. Setidaknya data GAIKINDO menunjukkan industri otomotif belum mampu mengerem penurunan penjualan kendaraan bermotor hingga 5 persen untuk mobil dan 11 persen untuk motor dalam dua bulan pertama tahun ini. Namun ada yang cukup menyenangkan untuk diperhatikan, bulan Maret menjadi ajang balap kelas kendaraan SUV.

Pada bulan Februari, sejumlah media menampilkan isu pergeseran pasar MPV (Multi-Purpose Vehicle) ke SUV (Sport Utility Vehicle). Majalah Marketeers menyebut segmen SUV menjadi magnet tersendiri di tengah lesunya daya beli masyarakat. Sedikit gambaran, tahun lalu market share segmen ini tumbuh 18.7%. Dengan kata lain, pesatnya pertumbuhan ini menjadi penyumbang yang tidak kalah penting bagi pabrikan mobil di Indonesia.

Beberapa pabrikan merespon tren ini dengan manuver tidak terduga. Mazda telah berencana menghentikan produksi MPV seperti Mazda5, Mazda8 dan Biante seiring naiknya pamor SUV. Sementara raksasa otomotif dari Jepang, Honda mengombinasikan fitur MPV dan SUV ke dalam varian mereka yaitu BR-V dan HR-V.

Tahun ini pula, pabrikan otomotif besar seperti Mitsubishi dan Toyota sudah gencar merilis produk-produk terbarunya, terutama memaksimalkan pemasaran SUV sejak awal tahun.Terbukti, pasar SUV  menjadi semakin bergairah dengan Mistsubishi Pajero dan Toyota Fortuner yang relatif bersamaan memasarkan varian terbarunya di kuartal pertama tahun ini.

Tim dari Isentia Jakarta melaporkan, All New Pajero Sport lebih mendominasi pemberitaan dibandingkan musuh-musuhnya, Fortuner dan Everest. Dari 397 total cakupan media yang membicarakan ketiga merk tersebut, SUV milik Mitsubishi mendapat sebanyak 82.6% sorotan media, sementara Fortuner hanya mendapat 16.6%, dan Everest sebanyak 0.7%.

Isu yang tidak kalah penting adalah faktor eksternal. Percepatan belanja infrakstruktur pemerintah disanyalir dapat membangun kepercayaan diri produsen otomotif, investor dan masyarakat. Ditambah, penurunan BI rate dalam bulan Maret tahun ini akan memiliki efek domino terhadap sektor industri otomotif. Rufina Tam, Associate Director dari Fitch, menyebut di Harian Kompas, penurunan suku bunga kredit dapat memacu penjualan otomotif sebanyak 3-5 persen pada tahun 2016. Setelah BI menurunkan suku bunganya menjadi 6,75 persen diharapkan dapat membantu masyarakat dalam pembiayaan kendaraan bermotor. Hal ini tentunya mampu mengimbangi para produsen otomotif yang sedang berlomba memasarkan rilisan SUV terbaru mereka tahun ini.

Similar Posts

How some countries in Asia fight the pandemic of...

Fake news seems to be a global pandemic, and countries in Southeast Asia are facing similar...

How to develop an effective crisis management...

Crisis management. Let’s be frank, we have all been through some sort of crisis, whether...

From Output to Outcome: Key trends at the 2017...

AMEC (the International Association of Measurement and Evaluation of Communications) held its 2017...

Internet users talk more about Marvel than DC...

JAKARTA – 2017 is the year of competition between two global comic book giants in the movie...

China KOL - Blogger Mr. Bags teams up with...

China KOL | Mr Bags who had created 12 minutes sold out miracle teams up with Burberry In January...

How can brands build trust across all channels in...

Looking at brand perceptions on social media vs traditional media While we can all acknowledge that...

Insights: An Insider's Guide for Enterprise Brands...

I’ve been completing media analysis for clients across the Asia Pacific region for over ten...

Important social insights for the entertainment...

There’s no business like show business. With its wide and active fan base, and diverse...